Edisi 26 September 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Rasa NusantaraKuliner

Jamu gendong: beras kencur, kunyit asam, dan botol pahit yang diminum terakhir

Minuman herbal yang dijajakan dari rumah ke rumah punya urutan minum yang tidak tertulis.

Pagi di banyak kampung Jawa masih dibuka dengan suara yang sama: langkah seorang perempuan dengan bakul bambu di punggung, berisi deretan botol kaca dan plastik yang diikat kain. Itu penjual jamu gendong, dan isi botolnya adalah salah satu tradisi minum tertua yang masih berjalan di Indonesia.

Jamu dalam bakul itu bukan satu minuman, melainkan sebuah rangkaian. Setiap botol punya bahan dan tujuan yang berbeda, dan pembeli yang berpengalaman tahu urutan meminumnya, dari yang paling ramah di lidah sampai yang paling pahit, lalu ditutup dengan yang manis sebagai penawar.

Baca juga: Es campur, es teler, dan es doger: membedakan tiga mangkuk es serut yang sering disamakan

Membaca deretan botol

Beras kencur adalah botol paling mudah disukai. Terbuat dari beras yang disangrai lalu ditumbuk bersama kencur, jahe, dan gula merah, rasanya manis hangat dengan aroma rempah segar. Anak-anak biasanya memulai dari sini. Kunyit asam berwarna kuning jingga, dibuat dari kunyit segar dan asam jawa dengan sedikit gula; rasanya asam segar dan menjadi pilihan yang sangat populer di kalangan perempuan.

Setelah itu barulah botol-botol yang lebih serius: pahitan dari daun sambiloto atau brotowali yang rasanya benar-benar getir, temulawak yang bersahaja dan sedikit pedas, serta cabe puyang yang hangat menusuk. Sebagian penjual juga membawa sinom dari daun asam muda dan gula asem sebagai penutup manis.

Cara minum yang benar

Pembeli biasanya berdiri di depan rumahnya, dan penjual menuang jamu ke gelas kecil yang dibilas air dari botol khusus. Minum langsung di tempat, bukan dibawa pulang, adalah kebiasaannya, karena jamu segar tanpa pengawet tidak tahan lama di udara panas. Yang pahit diminum sekali teguk, lalu disusul seteguk beras kencur atau sinom untuk membersihkan lidah. Minum pahitan pelan-pelan dianggap menyiksa diri.

Jamu gendong tidak menjanjikan kesembuhan; penjualnya pun jarang mengaku sebagai tabib. Yang dijanjikan adalah kebiasaan: minum sesuatu yang dibuat tangan pada pagi hari, mengobrol sebentar, dan merasa badan lebih segar sebelum hari dimulai. Di kota-kota besar, jamu kini juga disajikan di kafe dengan gelas tinggi dan es, tetapi pelajaran urutannya tetap sama. Mulai dari yang manis, hadapi yang pahit, akhiri dengan yang manis lagi.

FS
Farah SamudraFarah menulis dua puluh tiga artikel untuk rubrik Jalan-jalan dan Kuliner sejak 2023 dan masih mengisi halaman kami. Ia menyusun itinerari musim hujan berdasarkan catatan pribadi tentang jam berapa hujan turun di setiap kota yang pernah ia singgahi.
Dapatkan tulisan baru Rasa Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.