Edisi 26 September 2026Makan pelan, jalan jauh.

Tentang Rasa Nusantara

Rasa Nusantara lahir pada 2022 dari sebuah meja makan yang terlalu kecil untuk semua lauk yang dihidangkan. Mega Suryani, yang menulis artikel pertama kami tentang asal-usul sambal di dapur neneknya, percaya bahwa makanan Indonesia tidak pernah hanya soal rasa di lidah: ada asap kayu bakar, ada tawar-menawar di pasar subuh, ada doa sebelum tungku dinyalakan. Majalah daring ini dibangun untuk menyimpan semua itu sebelum hilang.

Kami menulis tentang kuliner dan perjalanan sebagai satu napas. Perjalanan tanpa makan di warung yang dipilih penduduk setempat bagi kami adalah perjalanan yang belum selesai, dan resep tanpa cerita tentang siapa yang memasaknya hanyalah daftar bahan. Empat rubrik kami, Kuliner, Jalan-jalan, Resep, dan Budaya, saling meminjam aroma satu sama lain.

Para penulis Rasa Nusantara datang dari dapur yang berbeda. Ada yang tumbuh dengan rendang yang dimasak delapan jam, ada yang pertama kali mencoba papeda saat dewasa dan tidak tahu bahwa ia tidak perlu dikunyah. Perbedaan itu yang membuat tulisan kami bersuara, dan kami sengaja tidak menyeragamkannya.

Setiap resep yang kami terbitkan sudah dimasak minimal sekali di dapur penulisnya, dengan takaran yang ditimbang ulang dan catatan tentang apa yang gagal pada percobaan pertama. Setiap tempat yang kami tulis sudah didatangi, bukan disusun dari brosur atau foto orang lain. Kalau ada warung yang sudah tutup sejak artikel kami tayang, kabari kami lewat redaksi@rasa-nusantara.id dan kami akan menandainya.

Selamat datang. Duduklah, cicipi pelan-pelan, dan kalau ada hidangan yang menurutmu belum kami kenal, kami ingin mendengarnya.

Redaksi

Surel redaksi: redaksi@rasa-nusantara.id.