Edisi 26 September 2026Makan pelan, jalan jauh.
← Rasa NusantaraKuliner

Cendol atau dawet: dua nama, satu mangkuk hijau yang sama?

Beda daerah, beda sebutan, beda tepung.

Dua hari lagi Ramadan, dan es hijau berkuah santan dengan gula merah akan kembali memenuhi meja takjil. Sebagian orang menyebutnya cendol, sebagian menyebutnya dawet. Apakah keduanya sama? Jawabannya: hampir, tetapi tidak persis.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama dawet lebih umum. Butiran hijaunya dibuat dari tepung beras atau tepung sagu aren, teksturnya lebih kenyal dan licin, dan dawet dari Banjarnegara terkenal dengan kuah santannya yang segar dan irisan buah nangka. Di Jawa Barat dan di Sumatera, nama cendol yang dipakai, dan butirannya lebih sering dibuat dari tepung hunkwe atau campuran tepung beras, sehingga lebih lembut dan mudah putus.

Baca juga: Gudeg: manisnya Yogyakarta yang tidak perlu dimaafkan

Warna hijaunya datang dari daun suji dan daun pandan yang ditumbuk lalu diperas. Pewarna alami ini memberi warna hijau yang teduh dan aroma yang tidak bisa ditiru pewarna botol. Kuahnya santan yang diberi sedikit garam, dan pemanisnya sirup gula merah yang dimasak dengan daun pandan sampai kental.

Perbedaan lain ada di cara menyajikan. Dawet sering dijual dengan gentong tanah liat dan diciduk dengan batok kelapa, lalu disajikan dalam mangkuk kecil. Cendol lebih sering disajikan dalam gelas dengan es serut yang banyak, kadang ditambah tape ketan hitam atau durian.

Apa pun namanya, keduanya adalah minuman buka puasa yang nyaris sempurna: manis, dingin, mengenyangkan sedikit, dan membuat tubuh yang seharian haus terasa dihibur. Kalau ada yang berdebat soal nama, biarkan saja. Mangkuknya bisa dihabiskan sambil mendengarkan.

BB
Bella BudimanBella adalah salah satu penulis awal kami yang menulis sembilan artikel pada 2022 dan 2023, sebagian besar tentang jajanan sekolah yang mulai menghilang. Ia berhenti menulis setelah pindah ke luar negeri dan meninggalkan satu toples kerupuk di meja redaksi yang tidak pernah kami buang.
Dapatkan tulisan baru Rasa Nusantara lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.