Arsik ikan mas: ikan kuning Batak yang hadir di setiap meja adat
Andaliman, kunyit, dan ikan utuh yang tidak boleh dipotong sembarangan.

Akhir Desember, banyak keluarga Batak pulang ke kampung di sekitar Danau Toba. Di rumah-rumah yang penuh tamu itu, hampir pasti ada arsik: ikan mas yang dimasak dengan bumbu kuning sampai kuahnya hampir habis dan bumbunya menempel di kulit ikan.
Bumbunya kunyit, lengkuas, jahe, bawang, cabai, serai, dan dua bahan yang membuatnya jelas Batak: andaliman yang membuat lidah bergetar, dan kecombrang atau asam cikala yang memberi rasa asam segar. Ikan dimasak utuh bersama kacang panjang dan bawang batak, dengan api kecil dan waktu yang panjang.
Baca juga: Bagea: kue sagu keras dari Maluku yang baru lembut setelah dicelup teh
Arsik bukan sekadar lauk. Dalam adat Batak Toba, ikan mas yang diberikan pihak hula-hula kepada boru disebut dekke, lambang berkat dan doa untuk hidup yang panjang dan beranak cucu. Jumlah ikannya punya arti, cara menatanya punya arti, dan ikannya dihidangkan utuh dari kepala sampai ekor.
Karena itu, arsik di meja hajatan tidak boleh dipotong-potong seperti lauk biasa. Ia diletakkan, didoakan, lalu dibagikan menurut urutan yang disepakati. Baru setelah itu orang makan dengan nasi, dan biasanya baru di saat itu kamu mengerti bahwa rasa yang kuat ini adalah rasa yang serius.
Kalau kamu hanya ingin mencicipi tanpa adat, rumah makan Batak di Medan, Siantar, atau Balige menyajikan arsik setiap hari. Pesan dengan nasi hangat dan cobalah andalimannya sedikit dulu. Getarnya di lidah akan hilang, tetapi ingatannya tidak.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.